By Ni Luh Sri Arsini on Feb 27, 2008 | Reply
Perbaikan…..
Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Terdapat 3 wujud kebudayaan yaitu Idea, Aktivitas, dan Hasil Kebudayaan. Hasil dari pemikiran manusia dilakukan melalui aktivitas dan menghasilkan suatu kebudayaan. Contohnya korupsi. sedangkan kita ketahui bahwa korupsi itu sesuatu yang tidak baik. Tetapi pada kenyataannya masyarakat suka melakukannya, seakan-akan masyarakat kita sering menghasilkan kebudayaan yang tidak baik
· By Ni Luh Sri Arsini on Feb 27, 2008 | Reply
Di dalam ilmu Antropolgi terdapat 4 fase perkembangan. Fase pertama yaitu pada abad ke-5 orang-orang Eropa barat mulai keluar melakukan perjalanannya ke daerah Afrika, Asia, dan Amerika. Kisah perjalanannya dicatat melalui sebuah laporan, kisah perjalanan dan sebagainya yang memuat tentang adat istadat, masyarakat serta keadaan alamnya. Hal ini membuat orang Eropa tertarik untuk menelusirinya. Namun, mereka mereka melihat mesyarakat pribumi tampak aneh. Fase ke dua yaitu munculnya ilmu Antropologi karena orang Eropa melihat bahwa terdapat beraneka ragam kebudayaan di dunia. Fase ke tiga yaitu orang Eropa mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan Pemerintahan negara-negara Eropa. Sehingga dapat menyempurnakan kebudayaan mereka. Fase ke Empat yaitu ilmu Antropologi mengalami perkembangan, bangsa primitif mulai hilang dan muncullah kolonoalisme.
Pada masa kolonialisme, bangsa barat datang dengan misi perdagangan melalui jalur perdagangan laut. akan tetapi pada akhirnya pikiran mereka berubah haluan, mereka tertarik dengan keadaan wilayah serta adat-istiadat daerah yang mereka datangi. Hal ini menyebabkan mereka meneriakkan Gospel, gold dan Glory. Sehingga berubahlah tujuan semula, yang pada awalnya bertujuan untuk berdagang berubah menjadi tujuan untuk menjajah.
Namanya juga bangsa saudagar, mereka kebanyakan hanya menginginkan keuntungannya saja, diibaratkan seperti benalu. Maka dari itu, janganlah kita mau dipecundangi oleh bangsa saudagar (yang neko-neko) yaitu dengan cara menggunakan sistem keamanan yang ketat bagi wilayah negara kita misalkan di daerah ZEE dan diberikannya sangsi yang tegas bagi yang melanggar. Namun, kita sebagai negara yang dipecundangi harus sadar diri bahwa hukum dan SDM yang kita miliki sangat lemah.
· By Ni Luh Sri Arsini on Feb 27, 2008 | Reply
Di dalam ilmu Antropolgi terdapat 4 fase perkembangan. Fase pertama yaitu pada abad ke-5 orang-orang Eropa barat mulai keluar melakukan perjalanannya ke daerah Afrika, Asia, dan Amerika. Kisah perjalanannya dicatat melalui sebuah laporan, kisah perjalanan dan sebagainya yang memuat tentang adat istadat, masyarakat serta keadaan alamnya. Hal ini membuat orang Eropa tertarik untuk menelusirinya. Namun, mereka mereka melihat mesyarakat pribumi tampak aneh. Fase ke dua yaitu munculnya ilmu Antropologi karena orang Eropa melihat bahwa terdapat beraneka ragam kebudayaan di dunia. Fase ke tiga yaitu orang Eropa mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan Pemerintahan negara-negara Eropa. Sehingga dapat menyempurnakan kebudayaan mereka. Fase ke Empat yaitu ilmu Antropologi mengalami perkembangan, bangsa primitif mulai hilang dan muncullah kolonoalisme.
Pada masa kolonialisme, bangsa barat datang dengan misi perdagangan melalui jalur perdagangan laut. akan tetapi pada akhirnya pikiran mereka berubah haluan, mereka tertarik dengan keadaan wilayah serta adat-istiadat daerah yang mereka datangi. Hal ini menyebabkan mereka meneriakkan Gospel, gold dan Glory. Sehingga berubahlah tujuan semula, yang pada awalnya bertujuan untuk berdagang berubah menjadi tujuan untuk menjajah.
Namanya juga bangsa saudagar, mereka kebanyakan hanya menginginkan keuntungannya saja, diibaratkan seperti benalu. Maka dari itu, janganlah kita mau dipecundangi oleh bangsa saudagar (yang neko-neko) yaitu dengan cara menggunakan sistem keamanan yang ketat bagi wilayah negara kita misalkan di daerah ZEE dan diberikannya sangsi yang tegas bagi yang melanggar. Namun, kita sebagai negara yang dipecundangi harus sadar diri bahwa hukum dan SDM yang kita miliki sangat lemah.
By Ni Luh Sri A on Mar 5, 2008 | Reply
Di dalam proses belajar kebudayaan terdapat 2 konsep penting yaitu internalisasi, sosialisasi dan enkultrasi. ketiga konsep ini merupakan proses belajar yang juga merupakan kebudayaan itu sendiri yang berkaitan satu sama lain.
di dalam diri setiap individu memiliki bakat yang digunakan untuk mengembangkan perasaan, hasrat, nafsu serta emosi dalam dirinya. Bakat tersebut perlu diasah yaitu dengan belajar, sehingga dapat menghasilkan kebudayaan. Kebudayaan tersebut dapat bersifat positif dan negatif. Oleh karena itu dalam proses belajar diperlukan ketelitian dalam melakukan internalisasi, sosialisasi, dan enkultrasi. Sehingga kebudayaan yang dipelajari dan dihasilkan tidak bersifat negatif
· By Ni Luh Sri A on Mar 5, 2008 | Reply
Tingkah laku serta pola pikir manusia dan binatang berbeda. Tingkah laku dan pola pikir manusia lebih bervariasi karena selain dipengaruhi oleh sistem organik biologisnya tetapi juga dipengaruhi oleh akal dan jiwanya. Akibatnya setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda pula. Dalam membangun kepribadian dalam diri kita, sebaiknya unsur jalan menjadi manusia lebih dominan ditanamkan. Hal ini karena tingkah laku dan pola pikir manusia yang lebih bervariasi. Dengan bervariasinya pola pikir dan tingkah laku manusia maka akan memunculkan penggambaran, perasaan, kehendak dan keingginan yang bersifat positif atau negatif. Maka dari itu, manusia dilengkapi dengan jiwa dan akalnya diharapkan dapat memilah mana yang baik dalam artian tidak salah menggambarkan sesuatu(tidak melebihkan atau mengurangi) sehingga perasaan yang muncul tidak menimbulkan kehendak atau keinginan yang bersifat negatif, sehingga kita dapat mengendalikan emosi kita.
· By Ni Leh Sri Arsini on Mar 18, 2008 | Reply
Manusia dimuka bumi ini sering melakukan migrasi yaitu penyebaran. Migrasi itu sendiri ada yang bersifat cepat ada pula yang lambat. Banyak alasan manusia untuk melakukan migrasi. Salah satunya yaitu mencari daerah baru untuk melangsungkan hidup mereka. Bukan saja hanya manusia yang dapat melakukan penyebaran atau migrasi. Unsur-unsur kebudayaan juga dapat nelakukan penyebaran yang disebut difusi. Hal ini akan memunculkan akulturasi yaitu percampuran kebudayaan. Di dalam proses difusi dan akultrasi ini,keadaan masyarakat sangat mempengaruhi yaitu bagaimana respon masyarakat terhadap kebudayaan itu sendiri. Dengan adanya proses difusi dan akulturasi, maka tidak semua kebudayaan bersifat positif. Benar apa kata bapak “dalam meraup unsar-unsur kebudayaan asing sudah saatnya di pertegas, ambilah yang positif, jangan yang negatif, dan atau yang merugikan”. Maka dari itu kita harus dapat menyaring setiap kebudayan yang masuk. Proses migrasi, difusi, dan akulturasi ini akhirnya dapat pula memunculkan asimilasi yaitu proses sosial yang muncul dalam masyarakat.
· By Ni Luh Sri Arsini on Mar 31, 2008 | Reply
Suatu kebudayaan dapat mengalami percampuran yang disebut akulturasi. Proses akulturasi sudah banyak terjadi hampir di seluruh dunia. Proses akulturasi ini dapat digunakan suatu bangsa untuk menjajah bangsa lain terutama melalui kebudayaannya. Karna melalui kebudayaan dapat mengubah pola pikir suatu bangsa, sehingga bangsa tersebut bisa dijajah.
Tidak semua masyarakat dapat menerima dengan begitu saja kebudayaan lain yang berasal dari luar. Mereka biasanya sangat mempertahankan kebudayaan asli mereka.di Indonesia, proses akulturasi ini sudah banyak terjdi. Tidak semua kebudayaan yang masuk bersifat positif, banyak kebudayaan lain yang berasal dari luar yang bersifat negatif dan tidak cocok dengan kebudayaan masyarakat Indonesia. Oleh karna itu, kebudayaan tersebut tidak begitu saja dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga kebudayaan-kebudayaan tersebut perlu disaring terlebih dahulu agar tidak menimbulkan proses akulturasi yang menghasilkan pengaruh-pengaruh negatif terhadap bangsa Indonesia itu sendiri.
”Kebudayaan yang dapat mengalami dinamika perkembangan, adalah kebudayaan yang menuju kematian”. Menurut saya, hal ini benar karena suatu kebudayaan bila tidak mengalami perkembangan, contohnya melalui akulturasi, maka kebudayaan tersebut akan bersifat monoton dan akhirnya kalah/hilang dengan kebudayaan lain yang beraneka jenis/lebih menarik karena telah mengalami perkembangan.
· By ni luh on Apr 2, 2008 | Reply
asimilasi adalah suatu proses sosial dimana terjadi percampuran kebudayaan sehingga kebudayaan mayoritas lebih berpengaruh atau bahkan dapat melahirkan suatu kebudayaan baru. Oleh karna itu, kita harus dapat menjaga kelestarian kebudayaan bangsa kita agar tidak punah dan hilang oleh kebudayaan asing. Apalagi bangsa kita saat ini mudah terpengaruh oleh banga asing, kebanyakan lebih menyukai sesuatu yang berasal dari luar negeri dari pada dalam negeri. Ya….biar dibilang “GAUL” atau apa saja. Padahal tidak semua kebudayaan asing bersifat positif. Oleh karna itu, kita sebaiknya dapat menyaring setiap kebudayaaan yang masuk. Boleh saja terjadi asimilasi didalam kebudayaan kita, tetapi kebudayaan yang dihasilkan harus bersifat positif dan sesuai dengan kebudayaan asli Indonesia, karena hal ini juga akan memperkaya kebudayaan Indonesia.
By ni luh on Apr 7, 2008 | Reply
Pembaharuan atau inovasi erat kaitannya dengan discoveri dan invention yang juga tidak dapat lepas dari ilmu pengetahuan yang merupakan faktor penting terjadinya ketiga proses tersebut. Menurut para sarjana, faktor pendorong bagi individu dalam suatu masyarakat untuk memulai dan mengembangkan penemuan baru yaitu(1) kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan; (2)mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan; (3) sistem perangsang bagi aktivitas mencipta bagi masyarakat. Setiap individu tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya termasuk juga kebudayaan. Maka dari itu banyak penemuan-penemuan baru yang ditemukan yang kemudian mengubah pola kehidupan masyarakat. Semua itu bersumber pada tata pikiran , gagasan, atau ide. Dengan adanya gagasan atau ide, maka suatu ilmu pengetahuan dapat dikembangkan sehingga dapat memunculkan discoveri,invention, serta inovasi
By ni luh sri arsini on Apr 16, 2008 | Reply
Di dalam kebudayaan terdapat tujuh unsur-unsur kebudayaan yang dapat dibagi lagi kedalam unsur-unsur yang lebih khusus. Ketujuh unsur kebudayaan ini saling berkaitan satu sama lain yang merupakan faktor pendorong berdirinya atau bertahannya suatu kebudayaan. Selain sebagai faktor pendorong, unsur-unsur kebudayaan juga sebagai faktor pendukung kebudayaan itu sendiri yang juga disertai oleh peran manusia, yang memiliki ide dan melakukan berbagai tindakan yang menghasilkan kebudayaan, serta keadaan alam itu sendiri yang berpengaruh juga pada kebudayaan termasuk unsur-unsur kebudayaan tersebut. Jika ke tujuh unsur kebudayaan tertentu punah, maka kebudayaan tersebut akan punah pula
By niluh on Apr 23, 2008 | Reply
Judul : Masyarakat Indonesia
Masyarakat Indonesia adalah masyarkat majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa, bahasa, agama, sistem adat, dan sebagainya. Kemajemukan masyarakat indonesia semakin terlihat dengan dimilikinya pulau-pulau yang sangat banyak jumlahnya dan didiami oleh suku-suku dengan bahasa, budaya, serta kepercayaan mereka yang berbeda-bada. Hal ini merupakan aset negara yang tidak ternilai harganya. Masyarakat indonesia terkenal dengan keramahtamahannya sehingga membuat Indonesia dikenal oleh negara lain. Akibatnya banyak kebudayaan luar yang masuk ke Indonesia dan membuat semakin majemuknya masyarakat Indonesia. Kebudayaan tersebut mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan asli Indonesia, sehingga pada akhirnya masyarkat indonesia kurang mengetahui dan mengenal kebudayaan asli daerah masing-masing.
Kemajemukan masyarakt indonesia ini dapat berpengaruh terhadap perkembangan bangsa baik bersifat positifmaupun negatif. Dengan adanya kemajemukan pada masyarkat indonesia, memungkinkan dapat terjadinya perpecahan atau disintegrasi sosial. Jika dibiarkan, maka akan dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, di Indonesia dibuat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Hal ini diharapkan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat indonesia serta mencegah terjadinya disintegrasi sosial pada masyarakat indonesia yang letaknya terpencar-pencar di berbagi wilayah di Indonesia.
Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas yang terdiri dari daratan dan lautan serta terbagi-bagi menjadi beberapa propinsi yang jumlahnya selalu mengalami perubahan. Setiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda dengan daerah lain, sehingga masyarakatnya pun heterogen. Hal ini membuat pemerintah menetapkan peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan masyarakat. Sering kita jumpai masyarakat yang pro dan kontra dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah tersebut.
Persaingan dalam segala aspek kehidupan pun terjadi di dalam masyarakat dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial di masyarakat, karena siapa yang kuat dan cerdas dalam berbagai bidang akan menang serta berada pada strtifikasi sosial atas, sedangkan yang lemah akan berada pada stratifikasi sosial bawah. Masyarakat juga dapat mengalami mobilitas sosial vertikal naik (social climbing) atau mobilitas sosial vertikal turun (social sinking). Hal ini dapat mengganggu proses interaksi sosial masyarakat indonesia. Apalagi pada saat sekarang ini, sering kita lihat terjadi pro dan kontra didalam masyarakat indonesia yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu pendapat yang dimiliki oleh tiap individu masyarakat berbeda-beda. Banyak juga terjadi demo-demo yang menuntut perubahan sistem pemerintahan yang ada , karena masyarakat kecewa dengan kecurangan dan ketidakadilan yang terjadi di negara ini. Terlihat seperti akhir-akhir ini banyak terjadi korupsi dan penurunan dalam bidang ekonomi di negar ini. Dengan adanya masalah-masalah ini, maka perubahan besar banyak terjadi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat indonesia
· By Ni Luh on Jun 27, 2008 | Reply
Menulis memang sesuatu yang mudah tapi bagi saya menulis itu tidak mudah karena jujur saja baru pertama kali saya menulis untuk sebuah buku. Ini merupakan hal yang baru bagi saya. Walaupun menulis tidak menggunakan teori namun bagi saya untuk menulis harus belajar terlebih dahulu agar bisa mempertanggungjawabkan tulisan kita.
· By Ni Luh Sri Arsini on Jun 7, 2008 | Reply
Manusia pra sejarah dan sejarah memang berbeda yaitu dari kemampuan membaca dan menulisnya. Semua orang memiliki kemampuan membaca dan menulis, hanya saja tidak semua orang menggunakan kemampuan yang ia miliki dengan semaksimal mungkin. Kebanyakan orang cuek dengan masalah membaca dan menulis . Hal ini tidak sesuai dengan zaman sejarah yang dikatakan moderen saat ini . Namun kita dapat dikatakan memiliki pola pikir yang lebih maju jika dibandingkan dengan manusia purba , walau pun kita masih tergolong malas untuk menulis. Hal ini dapat dilihat pada berbagai bidang kehidupan , misalnya tekhnologi yang digunakan sudah lebih canggih jika dibandingkan dengan zaman purba.
· By Ni Luh Sri Arsini on Jun 7, 2008 | Reply
Perbedaan manusia prasejerah dan sejarah yaitu manusia prasejarah tidak bisa membaca dan menulis, sedangkan manusia sejarah sudah bisa membaca dan menulis. Manusia sejarah saat ini seharusnya sudah bisa membaca dan menulis, namun pada kenyataannya mereka banyak yang tidak mau menulis. Hal ini terjadi karena budaya “malas membaca”, sehingga pengetahuan yang dimiliki terbatas dan pada akhirnya mereka tidak tahu apa yang seharusnya mereka tulis. Padahal semua orang bisa menulis asal mereka mau rajin belajr dan membaca, sehingga pengetahuan yang mereka miliki luas. Jika pengetaun mereka luas, maka mereka akan mudah menuliskan apa saja yang ada di pikiran mereka. Menulis memerlukan latihan , semakin sering seseorang menulis maka akan semakin mudah mereka dapat menuliskan hasil-hasil pikirannya. Jika semua orang mau sering-sering membaca dan menulis , maka kita tidak akan menjadi “setengah” prasejarah dan “setengah” sejarah.